Rabu, 13 Juni 2012

Dalam Biru Laut

Sambil kupuisikan namamu bersama asin garam yang pekat dan suara yang rapat,kukayuh
sampan dari tepi jiwaku
berlayar
di atas debur ombak yang tak pernah surut dalam samudera tua

Kumasuki ruang dan waktu yang paling tua di dalamnya. Dan kutinggalkan sampanku di
permukaan sana
ikan-ikan berlarian ke dalam diriku
memunguti
lumut dan batu-batu
sampai dirimu terbit serupa bulan dalam tapaku. Dan kudengar suaramu terus memanggilku.
Begitu merdu. Redakan maha rindu.



Sumber : F Rizal Alief, Dalam Biru Laut, Majalah sastra Horison edisi April 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar